Menurut Kantor Berita ABNA, Selain itu tentang keputusan pengadilan Irak mengeluarkan surat penangkapan Trump, Hashd Al Shaabi siap menuntut balas kematiam Syahid Soleimani dan Israel masuk target, petinggi Israel shock melihat kekerasan di Kongres AS, turis Israel menyelundupkan narkoba ke UEA, rudal perlawanan Palestina mengubah kalkulasi rezim Zionis, dan rezim Saudi melanjutkan penangkapan ulama.
Arab Saudi Berdamai dengan Qatar
Sidang Dewan Kerja Sama Teluk Persia, PGCC, hari Selasa (5/1/2021) di kota Al Ula, Arab Saudi, digelar untuk secara resmi mengakhiri blokade sejumlah negara Arab atas Qatar.
Pertama, Saudi untuk mencapai kesepakatan dengan Qatar mengabaikan tiga negara Arab lain yang sama-sama memboikot Qatar, yaitu Mesir, Bahrain dan Uni Emirat Arab. Tidak ada satupun dari ketiga negara Arab itu ikut menghadiri sidang tingkat tinggi PGCC di Al Ula, Saudi.
Hal ini menunjukkan bahwa level ketegangan dengan Qatar masih tinggi, dan sampai saat ini di tubuh PGCC, polarisasi kekuatan masih terasa cukup kuat.
Kedua, UEA adalah pihak yang paling dirugikan dari Deklarasi Al Ula. Dalam beberapa bulan terakhir UEA bersitegang dengan Turki, di sisi lain Ankara menjalin hubungan erat dengan Qatar. Pada saat yang sama, UEA mengklaim diri sebagai pemain berpengaruh di kawasan Asia Barat, bahkan Dunia Islam.
Akan tetapi Saudi pada Deklarasi Al Ula,secara praktis mengabaikan keberadaan UEA. Oleh karena itu Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Ketiga, Deklarasi Al Ula membuktikan keunggulan strategi pemerintah Qatar dalam menghadapi tekanan maksimal Saudi dan tiga negara Arab lainnya. Selama tiga tahun terakhir, Saudi dan tiga negara Arab lain menerapkan blokade dan boikot untuk memaksa Qatar mengubah garis kebijakan luar negerinya.
Keempat, Deklarasi Al Ula membuktikan tanda-tanda berakhirnya rezim despotik dukungan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat. Empat tahun lalu, Presiden Amerika Donald Trump menganggap sistem yang berlaku di kawasan Asia Barat sebagai sistem yang kacau.
Pengadilan Irak Keluarkan Surat Penangkapan Trump
Pengadilan al-Rusafa Irak yang menangani berkas teror dan pembunuhan terhadap Komandan Muqawama, Syahid Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, mengeluarkan surat penangkapan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Seperti dilaporkan kantor berita Irak Waa', hakim pengadilan al-Rusafa mengatakan, setelah laporan penggugat dicatat dan penyidikan pertama rampung, surat perintah penangkapan Trump dikeluarkan pada hari Kamis (7/1/2021).
Menurut laporan ini, penyidikan untuk mengidentifikasi seluruh pelaku yang terlibat, baik warga Irak maupun warga asing dalam kejahatan ini akan terus dilanjutkan.
Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Letjen Soleimani dan Wakil Ketua Hashd Al Shaabi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, bersama delapan pengawal mereka gugur dalam serangan udara pasukan AS di dekat bandara Baghdad, ibu kota Irak pada Jumat dini hari, 3 Januari 2020.
Pembunuhan tersebut dilakukan atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump. Letjen Soleimani berkunjung ke Irak atas undangan resmi dari pemerintah Baghdad.
Hashd Al Shaabi Siap Menuntut Balas, Israel Masuk Target
Salah seorang komandan Hashd Al Shaabi mengatakan, semua kelompok perlawanan di kawasan sudah siap menuntut balas, dan kehancuran rezim Zionis Israel adalah salah satu bagiannya.
Fars News (4/1/2021) melaporkan, Ahmed Al Mousawi Al Maksusi memuji ketokohan Letjend Syahid Qasem Soleimani dan Abu Mahdi Al Muhandis.
Dalam wawancara dengan situs berita Al Ahed, ia menuturkan, musuh tidak akan bisa melunturkan nilai-nilai perjuangan Soleimani dan Al Muhandis.
Ia menambahkan, hari ini rakyat Irak memendam rasa marah layaknya gunung berapi, khususnya pasca teror dan serangan di sebuah kota berdaulat yaitu Baghdad.
Komandan Hashd Al Shaabi itu menegaskan, semua kelompok perlawanan di kawasan sudah siap menuntut balas, rakyat Irak dan kelompok perlawanan siap menuntut balas.
"Kehancuran Israel merupakan bagian dari pembalasan ini," pungkasnya.
Petinggi Israel Shock Melihat Kekerasan di Kongres AS
Menteri Peperangan Israel, Benny Gantz mengatakan bahwa ia shock dan terkejut menyaksikan kerusuhan dan kekerasan di gedung Kongres AS.
"Saya tidak percaya saya akan melihat gambar-gambar seperti itu dari Amerika," kata Gantz seperti dilaporkan televisi al-Mayadeen, Kamis (7/1/2021).
Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu belum memberikan komentar apapun terkait kekerasan di Amerika.
Setidaknya empat orang tewas setelah pendukung Trump menyerbu gedung Kongres di Washington pada Rabu.
342/